skip to Main Content

Mengapa Sakai Disebut Mesin Sejuta Umat?

Terdapat banyak tipe alat konstruksi di pasar dewasa ini yang biasa digunakan untuk membangun jalan raya. Namun, tidak banyak pabrikan yang khusus membuat mesin-mesin pembuat jalan. Salah satu jagoan di pasar ceruk ini adalah Sakai, yang sudah lama dikenal sebagai spesialis mesin-mesin pembuat jalan.

“Motor Grader Sakai sudah dipakai di Indonesia sejak tahun 70-an,” kata Soesilo Budi Leksono, Branch Manager PT Equipindo Perkasa, salah satu dealer Sakai, ketika berbicara dengan Majalah Equipment di Jakarta belum lama ini.

Produk-produk Sakai, lanjut Soesilo, terbilang pemimpin pasar di kelasnya. “Setiap bulan, tak kurang dari 30 unit terjual,” ujarnya.

Bahkan menurut Davin Christian MIB, General Manager Equipindo Perkasa, jumlahnya bisa mencapai 40 unit per bulan.  Saking besarnya minat pasar terhadap produk-produk Sakai, Soesilo menyebutnya sebagai ‘mesin sejuta umat’. Dalam kondisi bisnis yang masih melambat seperti sekarang ini, dia menuturkan, Equipindo masih mampu menjual dalam jumlah signifikan. Ia mencontohkan jenis Tire Roller yang dijual rata-rata sembilan unit per bulannya.

Jenis-jenis mesin yang dipasarkan Sakai di Indonesia adalah Vibrating Roller, Tire Roller, Road Stabilizer, Asphalt Paver, Hand Operator Compactor dan Static Three Wheel Roller.

PT Equipindo Perkasa memasarkan mesin-mesin Sakai ini ke berbagai segmen – baik pengguna langsung, kontraktor maupun rental. “Sekitar 30 persen populasi unit terserap di sektor rental, sementara swasta 25%. Sisanya di Pemerintah,” tuturnya.

Bagaimana Sakai menjaga reputasinya di Indonesia? Soesilo menegaskan, penjualan produk-produk Sakai di Indonesia didukung penuh oleh principal. Sakai sudah diproduksi di Indonesia, termasuk semua suku cadangnya. “Pelanggan tidak perlu khawatir dengan ketersediaan spare parts, karena pabriknya sudah ada di sini! Principal Sakai dari Jepang juga selalu mem-back up. Kalau perlu, suku cadangnya dikirim melalui udara (air freight), selambat-lambatnya tiga hari,” terangnya mengenai kesiapan memberikan servis kepada customer.

Selain itu, ia menambahkan, pihaknya memonitor secara ketat kinerja alat selama 8-10 jam pertama. Kemudian tiga minggu setelahnya, mesin dikontrol lagi. “Jangan sampai terjadi perlakuan sembarangan! Mesin jadi lekas rusak seandainya perlakuan yang salah masih terus dijalankan,” paparnya.

This Post Has 0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top